WARTA

Tradisi Semaan Akbar Durrotu Aswaja Latih Peran Santri Tahfidz di Masyarakat

Tradisi Semaan Akbar bagi santri tahfidz sebagai salah satu rangkaian Haflah Akhir Sanah (HAS) Pesantren Durrotu Ahlissunah Waljama’ah (Durrotu Aswaja) merupakan cara pengasuh melatih santri penghafal mengambil peran di masyarakat.

“Semaan Akbar ini maksudnya untuk menambah mental agar santri berani berani tampil di masyarakat,” kata Pengasuh Pesantren Durrotu Aswaja, Kiai Agus Ramadhan kepada NU Online Jateng, Ahad (10/1).

Santri memang harus belajar mengambil peran membina masyarakat, lanjutnya. Oleh karena itu Pesantren Durrotu Aswaja memiliki program Amal Bakti Santri (Abas), yakni semacam Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Semaan Akbar bagi santri tahfidz yang akan diwisuda.

Ketua Panitia HAS Durrotu Aswaja, Aliyul Wafa menjelaskan, praktik Semakan Akbar dibagi di beberapa tempat. Di antaranya di dalam kompleks pesantren, tepatnya di Masjid Kiai Masrochan, dan beberapa masjid di luar pesantren.

“Tahun ini ada peserta simakan berjumlah 141 santri, 123 santri tahfidz putri dan 18 santri tahfidz putra yang disebar di 16 masjid yang di sekitar Gunungpati dan melibatkan masyarakat sekitar masjid,” terangnya.

Peserta Simaan Akbar membaca Al-Qur’an secara hafalan yang dimiliki dan didengarkan oleh santri dan masyarakat sekitar. “Ini tujuannya untuk dakwah dan megenalkan kepada masyarakat terkait adanya santri yang diwisuda khatam Al-Qur’an bil ghaib (hafalan) dalam acara HAS,” ujarnya.

Salah satu peserta, Munifa Majdiyyah, mahasiswi Jurusan Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Semarang yang menghafal sejak tahun 2015 telah berhasil menyelesaikan hafalan 30 Juz sehingga bisa menjadi peserta Semaan Akbar secara utuh.

“Semaan Akbar ini sangat bermanfaat untuk santri tahfidz. Selain untuk menambah kelancaran dalam menghafal, santri juga dilatih untuk siap semaan di depan banyak orang sesuai juz yang didapatkan. Santri juga dapat sekaligus berlatih semaan lebih dari satu juz untuk mempersiapkan disimak secara utuh 30 juz,” kata Dara 21 tahun asal Yogyakarta.

Peserta dari jurusan pendidikan yang sama, Maria Ulfa, gadis 19 tahun asal Banyuputih, Kabupaten Batang yang mulai menghafalkan Al-Qur’an pada tahun 2019 juga mengikuti kegiatan tersebut. “Semaan Akbar ini baik untuk melatih mental para santri penghafal Al-Qur’an,” tuturnya.

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Editor: Hasan Fauzy

Sumber : https://jateng.nu.or.id/read/AKgD/tradisi-semaan-akbar-durrotu-aswaja-latih-peran-santri-tanfidz-di-masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *