Esai

Apakah Empat Mazhab Dalam Islam Merupakan Pembaharuan Syariat?

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam jam’iyyah Nahdlatul Ulama terdapat empat mazhab yang dijadikan pedoman dalam peribadatan. Keempat mazhab tersebut yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali.

Apakah empat mazhab tersebut merupakan pembaharuan syariat dalam islam?. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitabnya Syari’atullahi al-Kholidah halaman 250 menyebutkan bahwa beberapa orang di Perancis menyangka bahwa mazhab-mazhab yang ada dalam islam merupakan pembaharuan syariat islam,

زعم بعض الفرنج أنها متباعدة كتباعد فرق النصارى

“Sebagian orang perancis menyangka bahwa (empat dalam islam saat ini) merupakan pembaharuan (syariat) dalam kelompok-kelompok agama nasrani”.

Meraka berprasangka bahwa mazhab yang ada dalam islam seperti halnya perpecahan dalam agama nasrani yang menjadi beberapa kepercayaan seperti katolik, protestan dan ortodok. Sedangkan kalau dalam yahudi melahirkan beberapa kepercayaan seperti nasturi dan samiri.

Hal tersebut merupakan pendapat yang sesat, karena aliran-aliran yang lahir dari nasrani dan yahudi saling mengkafirkan satu sama lain. Selain itu, mereka pernah mengalami pertempuran dan pertumpahan darah.

Kemudian, perbedaan-perbedaan yang ada dalam empat mazhab saat ini terjadi dalam ranah furu’ atau ijtihad, bukan dalam ranah ushul. Keempat mazhab tersebut memiliki argumen (dalil) dalam hal furu’ yang mana dalil tersebut bersifat dzonniyah.

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki mengatakan bahwa empat imam mazhab tersebut saling memuliakan atau mengagungkan satu sama lain,

كا ن كل واحد من الأءمة يجل الأخر

“Setiap dari para imam mazhab saling mengagungkan satu sama lain”

Kalau kita tilik transformasi keilmuan mereka, mereka saling mengambil ilmu satu sama lain. Imam Syafi’i belajar langsung kepada Imam Malik dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani yang notabene merupakan murid Imam Hanafi, sedangkan Imam Ahmad bin hanbal berguru kepada Imam Syafi’i.

Kesamaan yang ada diantara keempat mazhab tersebut sangat banyak. Persamaan atau ittifaq yang terjadi diantara mazhab tersebut tidak disandarakan pada salah satu diantaranya. Contoh, adanya kewajiban zakat dan bolehnya akad qirad tidak dikatakan bahwa ini merupakan mazhab imam Maliki atau Syafi’i.

Adanya perbedaan tersebut merupakan bentuk rahmat yang ada dalam islam seperti apa yang disabdakan oleh Rasullah SAW,

اِخْتِلاَفُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ

“Perbedaan-perbedaan yang ada dalam umatku merupakan rahmat, (H.R Tirmidzi)”

Oleh: Ulin Nuha (Alumni  Sa’altu)

3 Komentar

  • Shofiyullah

    Bagus artikelnya..
    Tapi ngapunten enten sing kurang sependapatn..
    Tulisane rodok provokatif antara Islam dan agama lain, Dengan menjatuhkan(yaa walaupun itu benar)
    .
    .
    Terus berdasarkan sejarah pengikut 4 madzhab yaa banyak yang saling bunuh juga karena perbedaan pendapat..
    Disini juga tidak disampaikan..

    NU(lebih ke Syafii) sama Muhammadiyyah(lebih ke Hambali) yang ada di Indonesia juga banya terjadi gesrekan..
    Apalagi Sunni sama Syiah lebih banyak lagii…
    Jadi intinya sama” banyak terjadi gesrekan baik islam atau agama lainn..

    Ngapuntene gehh,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *