Cerpen

Abdi Ndalem Ketikung Cinta Seorang Gus

                                                                                                                                      

Oleh: Mia Pangesti

Saya Mifaulina Zahra bisa dipanggil Mifa ,setelah tamat dari bangku Madrasah aliyah ,aku tidak melanjutkan lagi untuk berkuliah. Karena keterbatasan ekonomi . Walau begitu, orangtuaku menyarankan  kepadaku setidaknya kalaupun  tidak lanjut kuliah,  diriku harus tetap bisa mengeyam ilmu di  pondok pesantren yang kiranya biayanya itu bisa dijangkau oleh orang tuaku entah bagaimana caranya. Akupun bersedia dan menerima saran dari orang tuaku.

Sore itu aku dan orang tuaku mengajak aku untuk  berangkat ke pondok yang bapak ibu maksud. Dan sesampainya ibu dan bapak  menyowankan ku di ndalem pondok .

‘’Nduk ayu Mifa’’

‘’Enggeh dalem,ibuk’’

‘’Nanti tolong bersihkan kamar ndalem timur sebelah kamar nya mas Asyrof  ,karena besok sore mas Ihsan mau pulang dari jatim’’

‘’enggeh ibuk,siap’’Jawabku sambil tersenyum dan menganggukan kepala.

Umi tersenyum juga sambil mengelus kepalaku dan pergi .

Umi, beliau adalah seorang ibu nyai yang ada di pondok Alfada yang ku tempati untuk sekarang ini.

Biasanya mbak-mbak dan kang-kang memanggilnya Umi Badriyah. Berbeda dengan diriku yang harus memanggil Umi Badriyah dengan panggilan ibuk. Panggilan itu bukanlah kemauan ku tetapi kemauan dari Umi Badriyah dari sejak awal aku disowankan oleh orang tuaku.

Kebetulan saat sowan pertama kali orang tuaku sudah bercerita tentang kehidupan keluargaku .

Tak seperti kebanyakan mbak atau kang ndalem lain nya yang mondok sambil melanjutkan kuliahnya dan harus lulus syawir  terlebih dahulu sebelum mengabdi di ndalem. Aku malah langsung  ikut ndalem tanpa harus menyelesaikan sampai syawir. Dan aku hanya seorang anak yang berbekal lulus Madrasah Aliyah yang sedikit tau mengenai tulisan pegon dan kitab kitab dasar seperti amtsilah tashrifiyah dan jurumiyah.

Ada beberapa mbak ndalem yang lain cemburu kepada diriku,karena selama mereka mengabdi di ndalem belum pernah sama sekali dimintai ibuk untuk membersihkan kamar Gus Ihsan sedangkan aku yang baru ngikut ndalem malah langsung diamanati untuk membersihkan kamarnya. Biasanya ibuk meminta Kang Na’im (abdi ndalem yang sudah lama di pondok dan sudah menjadi buah tangan abah ibuk entah itu menjadi supir atau chef utama di pondok Alfada)

Awalnya aku ingin menolak, karena sungkan ke mbak ndalem lain takut didiemin, tetapi akupun sungkan jika menolak kemauan dari ibuk, aku menjadi bingung.

Mmm apa aku minta tolong ke kang  Na’im untuk membadali ku membersihkan kamar nya Gus Ihsan

,aku terus berpikir. Kalaupun iya bagaimana ya caranya untuk bisa ketemu dan bilang kepadanya

“Aku memang sering bertemu di dapur belakang dengan kang na’im tapi belum pernah sama sekali berbicara dengan nya, hanya sebatas ketemu setiap hari. Mm tapi nanti akan ku coba bicara aja lah kepadanya’’ batinku.

‘’mbak Mifa, sampun mantunan?’’

‘’Eh iya kang, Alhamdulillah tiada angin tiada hujan pucuk dicinta ulampun tiba. Aku harus memberanikan diri membuka obrolan kepadanya’’ gumamku.

‘’Heiy mbak Mifa, kok malah jadi cengar-cengir sendiri hmm, mbak Mifa seneng po ketemu saya ?, kang Rahman sambil cekikikan.

‘’Heiyah ono-ono wae kang Na’im kii’’ jawab ku sambil bekerja.

Kebetulan di sebelah ku ada mbak Nazla yang sedang mecuci baju tertawa geli mendengar kang Na’im menggodaku.

Mbak Nazla satu-satunya mbak ndalem yang  tidak cemburu ketika aku mendapatkan suatu pandangan yang lebih dari keluarga ndalem.

Kami sudah terbiasa bertemu, jadi sudah tidak canggung ketika berbicara meskipun tanpa tatap mata.

‘’tidak kang Na’im , aku cuma mau mintan tolong, sampeyan ada kerjaan lain apa ngga nanti? Tanyaku padanya sambil menundukan kepala.

‘’lolo mbak –mbak, udah ketemu gini kok masih pengin ketemu lagi? godaanya lagi.

‘’Aku tanya serius ini loh kang’’ jawabku kesal

‘’ahahahhaha, gitu aja marah mbak-mbak, kidding gih, nanti aku ngga ada kerjaan lagi. Mau minta tolong apa, insyaalloh aku bantu?’’

aku meliriknya sekilas, kang Na’im tersenyum.

‘’Aku tadi ndak marah kok cuma sedikit kesal’’ jawab ku cengengesan.

‘’turene ibuk, besok sore Gus Ihsan mau pulang dari Jatim, dan aku dimintai buat bebersih kamarnya guse, sungkan aku kang’’

‘’ooo santuiy mbak santuiy, nanti biar saya yang bersihkan ‘’jawab kang Na’im dengan penuh semangat.

‘’Alhamdulillah ,maturnuwun sanget lho kang’’ Sebagai  ganti dari itu nanti wajan beserta kawan-kawan nya aku yang cuci nanti ‘’

‘’lolo ndak susaah mbak, nanti tangan nya item-item luh qiqiqii’’ kelakarnya.

‘’haha lahwong tanganku yowes gosong ngenekok wedi gosong’’ kami bertiga tertawa bersama.

Setelah masak ,kang Na’im menaruh peralatan nya disampingku .

‘’Selamat bekerja, mbak. Hhahaha’’

‘’okay shap, tidak apa-apa kang yang penting kamar Gus Ihsan bersih.’’

‘’yasudah, mbak. Tak otewe bersihkan langsung ki’’

‘’enggeh kang, turnuwun sanget gih’’.

‘’Nggeh mbak, kula ugi remen kok bersihke kamare guse’’

Kang Na’im berlalu. Aku dan mbak Nazla melanjutkan pekerjaan masing-masing.

‘’Mbak Mifa njenengan gak takut didukani ibuk si?’’

‘’mmm pie maneh to mbak, aku sungkan meng mbak-mbak sing lintu’’

‘’yowes mbak, rodo cepet kerjane, mengkin langsung balik pondok , men mengkin ibuk nggak liat njenengan teng mriki’’

‘’oh enggeh-enggeh mbak’’

Selesai mencuci peralatan masak dan kawan- kawan nya aku bergegas ke pondok untuk menghilangkan rasa penat dan mengumpulkan energi kembali untuk mengaji setelah dzuhur dan bebersih ndalem nanti sore. Akupun merebahkan badan …

‘’Mbak Mifa, mbak Mifa’’

Aku terkejut dan langsung terbangun dari tidurku,?

‘’eh ada apa mbak Ririn?

‘’Kamu dicari Umi’’

‘’lolo iya to, ada apa emangnya?

‘’aku ndak tau ee,aku  aja diberi tau dari kang Na’im .

Aku berdiri mengumpulkan nyawa dan bergegas mengambil air wudhu dan mencari ibuk di ndalem. Ternyata ibuk sudah menungguku di ruang keluarga, aku melepas sendalku dan berjalan menggunakan lututku untuk mendekat ke ibuk, kebetulan ibuk duduk dikarpet, kami saling berhadapan dan aku menundukan kepalaku.

‘’nduk ayu Mifa capek atau sakit?’’ Tanya ibuk kepadaku

‘’Lumayan cape ibuk’’

‘’itu yang jadi alasanmu menyuruh kang Na’im untuk membersihkan kamarnya mas Ihsan?

Hatikupun berdegup dengan kencangnya, dan aku semakin menunduk tak tau mau jawab apa,

‘’yaudah, udah masuk waktu sholat dzuhur ayok bersiap jamaah’’

‘’enggeh buk’’

Aku baru saja akan membalikan badan.

‘’Nduk, besok kalau mas Ihsan pulang kamu yang bersihkan kamarnya. Jangan melemparkan tugas ini ke orang lain atau ke kang Na’im lagi ya, kalau capek atau sakit bilang langsung ke ibu ya?

‘’enggeh bu’’

Akupun kembali ke pondok dengan degupan jantung yang masih terasa berdebar dan tangan yang sudah dingin bagai es batu.

Saat di perjalanan aku menabrak mbak Aida sampai mbak Aida jatuh terduduk.

‘’Eh maaf mbak, tidak sengaja, aku lagi kurang fokus’’

‘’iya mbak, tidak apa, abis kenapa loh mbak, di dukani umi tah?

‘’enggak,enggak mbak, Cuma tadi dikasih tambahan pekerjaan besok, yasudah ya mbak aku tak lanjut untuk bersiap-siap jama’ah, mbak Aida saja sudah siap kok malah aku belum apa-apa,

Setelah siap aku bergegas ke masjid dan menempatkan diri di shaf tengah, masih malu dan canggung dengan ibuk yang berada di shaf awal , apabila nanti setelah jamaah harus berada di dekat ibuk dengan waktu yang cukup lama.

Jamaah dzuhur selesai, santri-santri berlanjut ngaos kitab di mushola dengan berbataskan satir, sedangkan ibu dan nawaning kembali ke ndalem.

Sampai waktu ashar tiba, ngaji dihentikan. Bersiap dan sholat ashar berjamaah, setelah itu sorogan. Untuk mbak dan kang ndalem tidak diwajibkan karena tugas-tugas menanti, kecuali aku yang wajib ikut sorogan walaupun dengan batas bait yang bisa kutentukan sendiri sesuai kemampuanku. Santri sorogan di serambi masjid. Aku berada di antrian pertama agar cepat selesai karena tugas nyapu dan menyirami tanaman di ndalem.

Malam ini aku dimintai ibuk untuk tidur di ndalem, jadi setelah pengaosan ba’da isya, aku harus langsung ke ndalem.

‘’Nduk ayu Mifa masih udzur?’’T anya ibuk sambil memandangku.

‘’Masih buk, ada apa?’’

‘’Besok ba’da subuh tidak usah nunggu mbak Nazla selesai ngaos Qur’an dan baru ke ndalem seperti biasanya, besok langsung ke ndalem aja dan bersihkan kamar mas Ihsan, mas Ihsan tadi chat katanya jadi pulang hari ini dan diperkirakan sore ini akan sampai. Biar nanti mas Ihsan bisa langsung beristirahat ,nduk ayu Mifa tinggal mengganti sprai dan menyapu tidak di pel tidak apa-apa. Soalnya tadi baru di pel kang Na’im.

‘’enggeh buk, mohon maaf malah tadi saya menyuruh kang Na’im‘’

Aku masih merasa bersalah sekali karena perbuatan ku tadi,ya walaupun ibuk terlihat biasa aja, tetapi aku takut ibuk memendam rasa kecewa.

‘’Mboten nopo nduk, asal jangan diulangi lagi’’

‘’enggeh bu’’sambil menganggukan kepala

Aku yang sedari tadi duduk di samping tempat tidur ibuk,berdiri dan menggelar tikar dan mengambil bantal.

+++++++++

Hari telah berganti pagi. Aku bangun dari tidur dan bergegas ke pondok untuk mandi lalu kembali ke ndalem untuk membersihkan kamar Gus Ihsan.

Saat sampai di kamar Gus Ihsan.

‘’Walahdahlahh, kok bukunya Gus Ihsan masih berdebu kaya gini, ini ni kang Na’im bagaimana sii, apa kang Na’im tadi belum selesai membersihkan nya karena keburu ketahuan ibuk ya’’ celotehku.

Pekerjaan ku  mulai dengan membersihkan buku Gus Ihsan, pekerjaan ini membutuhkan waktu cukup lama karena jumlah kitab dan buku yang tidak sedikit. Meskipun terlihat ada beberapa rak buku yang masih kosong. Entah kenapa saat bersih-bersih buku mataku langsung tertuju ke rak ke 2 dari bawah yang bertuliskan Novel, dan sebagian besar nya adalah novel milik Habiburahman El Shirazy, dan Ning Najhaty Sharma.

Batinku ’’Ternyata seorang gus suka baca novel juga toh, ku kira hanya baca kitab-kitab kuning saja’’

Setelah membersihkan buku ,aku lanjut menyapu,mengganti sprai dan sarung bantal dan gulingnya.

Ceklek!

Aku mendengar suara pintu terbuka ,aku kaget dan langsung membalikan badan. Membulatkan mataku ketika melihat siapa yang membuka pintu, aku segera menundukan kepala ku setelah melihat ternyata yang membuka pintu dan berada di depanku persis itu Gus Ihsan ‘’Ya Alloh, bukannya tadi ibuk bilang Gus Ihsan sampe ndalem sore ya’’ gumamku dalam hati.

Gus Ihsan pun tak kalah terkejutnya melihat aku yang sedang berada di kamarnya, dia segera berbalik badan dan berlalu meninggalkan kopernya di ambang pintu.

‘’Aduh apa Gus Ihsan marah ya?’’ batinku.

Aku mempercepat pekerjaanku, dan setelah kurasa udah selesai aku langsung bergegas keluar dari kamar Gus Ihsan.

‘’Semogaaa aku ndak ketemu Gus Ihsan’’Batinku sambil kututup pintu.

Ketika lewat di sebelah ndalem tengah aku mendengar suara orang yang sedang berbicara. Dan sesaat setelah aku masuk ke dapur yang pintunya berhadapan dengan pintu ndalem tengah aku menoleh, ternyata ada kang Na’im, ibuk, Gus Ihsan yang sedang berbincang-bincang.

Tak mau keberadaanku ini mengganggu mereka, aku langsung mencuci piring kotor dan beberapa peralatan masak. Setelah selesai aku langsung balik pondok.

Sampai di kamar, aku berbaring sambil menghafal beberapa bait nadzoman

‘’wa minhu dzu fathin wa dzu kasrin wadhom ka aina amsi haishu wassakinu kam…..’’

Menatap langit-langit,sambil berpikir.

‘’eh duh,kok ambyar? masa Cuma segini doang, eh tapi nggak papalah yang penting lancar’’ gumamku sendiri.

Tiba-tiba perutku terasa panas dan perih, aku mendesis kesakitan dan memiringkan tubuhku.

Kulirik jam yang menunjukan pukul Sembilan, daripada aku balik ke ndalem lebih baik aku tidur dulu. Baru saja aku mau memejamkan mata.

‘’mbak Mifa’’

‘’Yassalam’’ jawabku kaget

‘’mbak Nazla,ada apa?’’ aku memposisikan duduk meskipun perut menjadi lebih terasa perih.

‘’mbak Mifa ,sudah sarapan?, kok malah mau mapan bubu, nanti kambuh loh magh nya.

‘’ini malah sudah perih  mbak’’jawabku

‘’nah kan’’.

Mbak Nazla mengambilkan obat untuku

‘’nih minum, nanti ke ndalem untuk sarapan, umi juga tadi nyariin kamu.

‘’looo iya to mbak, ada apa emangnya? tanyaku sampai lupa rasa perih dalam perutku

‘’nggak tau aku, nanti setelah sarapan kamu langsung temui umi saja’’

Aku bergegas ke ndalem, menyerka rasa sakit dalam perutku.

Sesampainya di ndalem, di ruang keluarga ternyata masih ada Gus Ihsan dengan ibu. Mereka sedang berbincang terlihat serius tapi terkadang diselingi dengan tawa, hubungan anak dan ibu yang harmonis dan romantis

‘’eiyy, kok malah ngelamun. Ayo sarapan.’’

‘’lawong njenengan disini malah diam disini kok.’’

Kami mencari tempat duduk dan makan satu piring berdua.

‘’nduk’’

Aku dan mbak Nazla menoleh bersamaan

‘’eh ,enggeh bu’’ hendak berdiri

‘’sudah, sudah, lanjutkan makan mu terlebih dahulu, nanti setelah makan selesai kamu ke kamar ibuk, ibuk mau ngomong.

Setelah selesai aku langsung bergegas ke kamar ibuk dan ternyata ibuk sedang membaca qur’an,ku urungkan niatku yang hendak masuk ke dalam kamar beliau. Aku merasa ada yang  lewat di sampingku, segera ku tundukan kepala setelah ku tau orang itu adalah Gus Ihsan. Ia mengetuk dan masuk ke dalam kamar ibuk. Sedikit ku lirik, dia duduk di pangkuan ibu yang masih mengaji dan ibu membelai rambutnya, lembut.

‘’kutemui ibuk nanti sajalah, sepertinya Gus Ihsan masih memendam rasa kangen ke ibuk’’

‘’nduk’’

Kuhentikan langkah lututku, setelah mendengar panggilan ibuk.

‘’sini, masuk, ndak apa’’ lanjut ibu.

‘’nduk begini, mulai sekarang  dan seterusnya kamu yang membersihkan kamar Gus Ihsan’’

‘’emm, enggeh insyaalloh  bu’’ jawabku terbata dengan seulas senyum dan menundukan kepala.

‘’buk,s aya juga mau minta maaf, kemarin saya terlalu lama di kamar Gus Ihsan, dan saat saya belum selesai Gus Ihsan malah sudah sampai terlebih dahulu di ambang pintu dan membuka pintu lantas pergi meninggalkan kopernya,takut gus ihsan marah.

‘’nduk, mas Ihsan ndak marah loo, lawong kamarnya dibersihkan kok marah hhaha,Tanya saja sendiri kalau ndak percaya, kamu aneh-aneh saja nduk’’

Kulirik sekilas dan melihat maereka saling tatap dan tersenyum melihatku.

+++++++++++++

Sudah seminggu lebih aku membersihkan kamar gus ihsan seperti ngendikan ibuk. Aku membersihkan kamar Gus Ihsan setiap pagi dan sore. Ku kira setelah udzur ku selesai tugas ini selesai, eh ternyata masih lanjut.

‘’nduk setelah nyapu, langsung bersihkan kamar Gus Ihsan ya’’

‘’enggeh bu’’

‘’mbak Mazla aku kepondok dulu yaa’’

‘’ya. jawabnya lumayan malas’’

Brakk!!

‘’mbak Mifa, ndak papa ?tanya kang Na’im

‘’ndak apa kang, maaf ya tadi jalan nya terlalu grusu-grusu jadi nggak liat ke depan, geh mpun permisi, kang’’

Dia hanya mengangguk dan aku berlalu meninggalkan nya

‘’eh kok kang Na’im cuek banget ya tumben, batinku’’

Pintu kamar Gus Ihsan terbuka, tandanya tidak ada orang di dalamnya seperti apa yang ibu katakan.

‘’mbak’’

Aku kaget ketika ada yang memanggilku laki-laki dan ku tahu suaranya itu bukan suara kang Na’im.

‘’sssss siapa gih’’ jawabku sambil mengalihkan pandangan.

‘’Ihsan mbak, saya di ruang kerja . Tolong nanti buatkan kopi dan taruh di meja samping tempat tidur.

‘’eee mmm e enggeh gus’’jawabku terbata

‘’oiya mbak, gulanya dikit saja’’tambah Gus Ihsan.

Aku mengiyakan nya dan langsung bergegas ke dapur

Merebus air dan meracik, dua sendok makan kopi dan satu sendok makan gula untuk secangkir mini.

‘’mbak Mifa, bikin kopi untuk siapa”

‘’ini kang, untuk Gus Ihsan’’ sambil mengaduk kopi tanpa menoleh ke arahnya.

‘’oalah langsung antar mbak, dan ini sekalian makanan Gus Ihsan bawa ya’’ sambil memperlihatkan deretan giginya

‘’kenapa ngga sampean aja sii?!! Jawabku rodo kesal, nanti aku takut pulang ke pondok di tinggal mbak Nazla lagi.

‘’hahahahhahaha, masak si ndak berani pulang ke pondok sendirian mbak?’’godanya

‘’Bukan nya gitu,a ku sama mbak Nazla kan best friend forever jadi kemana-mana barengan’’ jawabku manyun

‘’haha yasudah aku nanti tak bilang ke mbak Nazla, biar ndak ditinggal’’

‘’iya kan mbak Nazla?,sedikit mengeraskan suara

‘’iyaaaaa’’jawab mbak Nazla yang sedang menjemur pakaian di balik tembok.

‘’tuh kan,ditunggu, mau ya!!.kang Na’im meyakinkan.

Kang Na’im menaruh satu piring nasi dan lauk pauk di wadah yang berbeda .Dijadikan nya satu nampan dengan kopi yang kubawa.

+++++++++++

Assalamualaikum.wr.wb, gus ini kopi sekaligus  makan siangnya.

Hening tak ada jawaban.

Kuletakan nampan yang kubawa diatas meja. Saat berbalik badan gus ihsan sudah berada di belakang ku, tanpa sengaja pandangan kita saling bertemu.Tak lama aku dan Gus Ihsan langsung  menundukan pandangan nya kembali . Degup jantung ku entah kenapa berdetak dua kali lebih cepat, walaupun antara aku dan Gus Ihsan itu berjarak.

Bersambung………

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *