WARTA

Amal Bakti Santri, Bekal Ilmu Kemasyarakatan Pesantren Durrotu Aswaja

Semarang, Durrotu Aswaja

Ilmu kemasyarakatan merupakan ilmu yang tak dapat dikuasai melalui pengajaran dalam kelas. Sebab, memahami realitas kehidupan bukan sebatas teori, melainkan langsung terlibat di dalamnya. 

Amal Bakti Santri (Abas) sebagai sebuah program Kuliah Kerja Nyata (KKN) santri Pesantren Durrotu Aswaja, Desa Banaran, Gunungpati, Kota Semarang secara umum ditujukan untuk membekali santri dengan ilmu kemasyarakatan sehingga akan sangat membantu santri ketika telah kembali ke desa asalnya.

“Alhamdulillah, pada tahun ini Pesantren Durrotu Aswaja kembali mengadakan Abas. Saya harap, selain mengajarkan ilmu agama, para santri juga bisa ikut mengajak masyarakat tertib protokol kesehatan,” kata Pengasuh Pesantren Dorrotu Aswaja, Kiai Agus kepada NU Online Jateng, Kamis (4/2).

Sekretaris Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Kota Semarang ini lantas mengingatkan hasil Abas di tahun-tahun sebelumnya, yakni berhasil mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) binaan. Dia berharap, Abas terus dapat menghasilkan karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kita mengharapkan nantinya bisa terus bekerja sama fii tarbiyatil islamiyah, berdakwah di dalam pendidikan islam,” harapnya.

Membekali para santri dengan doa untuk kelancaran, kiai muda yang kritis terhadap fenomena terkini meminta para peserta untuk menjaga komunikasi dengan pemerintah desa dan tokoh setempat. “Semoga dari awal sampai akhir kegiatan ini bisa berjalan lancar gancar dan memberikan kemanfaatan bagi semua,” tutupnya.


Perlu diketahui, terdapat tiga asas Pondok Pesantren Durrotu Aswaja yakni penguasaan ilmu agama secara murni, pensucian jiwa dan pembersihan hati serta pemurnian akhlak, juga yang terakhir ada dakwah. Amal bakti santri inilah yang menjadi salah satu wadah untuk berdakwah. Selain itu Abas sendiri merupakan salah satu syarat wajib bagi santri sebelum boyong.

Ketua Panitia Abas, Khoirul Anam menerangkan, kegiatan praktik pembinaan masyarakat tersebut merupakan kegiatan tahun angkatan keempat. Memperhatikan kondisi yang ada, peserta Abas dibagi delapan kelompok di lokasi yang berbeda.

“Abas periode keempat ini berada delapan titik, yakni di Dukuh Jetis, Dukuh Sedayu, Dukuh Ampel Gading dan Perumahan Sekar Gading. Keempatnya masih ikut Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati. Sedangkan tiga titik lagi berada di Kelurahan Sukorejo, tepatnya di Perumahan Trangkil Baru, Perumahan Taman Puri Sartika, dan di Dukuh Delik, Gunungpati. Adapun satu titik terakhirnya berada di Dukuh Persen Kelurahan Kalisegoro,” urainya. 

Selaku penanggungjawab kegiatan, ia telah memastikan seluruh peserta telah dibekali hafalan yang harus disetorkan kepada pengasuh dan sebagian ustadz yang ditunjuk oleh pengasuh untuk menyimaknya. Hal ini, menurutnya sebagai modal penting guna kelancaran pelaksanaan Abas sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat.

“Seluruh santri diwajibkan untuk setoran hafalan surat pendek mulai dari surat Adh-Dhuha sampai an-Naas, wirid dan doa setelah shalat maktubah atau wajib, bacaan tahlil beserta doanya, dan tak ketinggalan juga setoran baca kitab kuning,” pungkasnya.

Dhiyaul Aziz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.