Esai

Sayyidul Ayyam Umat Nabi Daud AS

Bagi umat islam, yaitu umat Nabi Muhammad SAW, diantara tujuh hari dalam seminggu, hari yang paling utama adalah hari Jum’at, seperti dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا ، وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Artinya, ”Hari terbaik dimana matahari terbit adalah hari Jumat, pada hari Jumat Nabi Adam AS diciptakan, pada hari Jumat Nabi Adam AS dimasukkan dan dikeluarkan dari surga, dan hari kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat” (HR. Muslim).

Para umat Nabi-Nabi terdahulu juga memiliki hari yang spesial dari beberapa hari yang Mereka miliki. Hal tersebut terekam dalam kitab Hasyiyatush Showi ‘ala Tafsiril Jalalain  karangan Imam Ahmad Ibn Muhammad ash-Showi al-Maliki. Dalam tafsir surat al-A’raf ayat 163 dijelaskan bahwa pada zaman Nabi Daud AS, Allah SWT memerintahkan kaumnya untuk meluangkan satu hari dalam seminggu untuk fokus beribadah kepada-Nya yaitu setiap hari Jum’at. Akan tetapi, Mereka menolak  pemilihan hari tersebut dan meminta agar diganti dengan hari sabtu, dan akhirnya Allah SWT mengabulkan permintaan Mereka.

Setelah dipenuhi apa yang Mereka inginkan, Mereka harus menjalakan apa yang diperintah Allah SWT sebelumnya, yaitu fokus beribadah pada hari tersebut dan juga dilarang melakukan aktivitas lain seperti berburu ikan setiap hari sabtu. Ketika Mereka fokus beribadah setiap hari sabtu, Allah SWT menguji Mereka dengan membuat ikan-ikan di laut setiap hari sabtu bergerombolan dan mudah ditangkap.

Mereka para kaum Nabi Daud AS tahu bahwa mencari ikan di hari sabtu merupakan sebuah larangan. Kemudian, sebagian dari Mereka tergoda untuk menangkap ikan, Mereka menyiasatinya dengan memasang perangkap ikan pada sore hari dan mengambilnya pada hari Ahad.

Melihat ada sebagian kaum dari Mereka “mengakali” apa yang dilarang oleh Nabi Daud AS, sebagian dari Mereka yang lain menasihati dan melarang teman-temannya. Akhirnya sebagian kaum yang melanggar perintah Allah SWT dikutuk menjadi kera dan babi, seperti dalam surat Al-A’raf ayat 166 ,

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Artinya, “Maka ketika Mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang Mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya, Jadilah kamu kera yang hina”.

Perbedaan umat Nabi Muhammad SAW dengan Nabi terdahulu mengenai hari paling agung (sayyidul ayyam) terletak pada lama ibadah wajib yang khusus dilakukan. Untuk umat Nabi Muhammad SAW hanya salat Jum’at saja sebagai ibadah khusus mingguan, selebihnya hanya ibadah-ibadah sunnah khusus hari Jum’at.

Salat Jum’at pun hanya diwajibkan bagi Mereka yang memenuhi syarat wajib salat Jum’at, ada beberapa kondisi yang mana tidak diwajibkan salat Jum’at seperti saat berpergian. Jika dihitung mungkin waktu pelaksaan salat Jum’at kurang lebih hanya setengah jam. Kalau umat terdahulu Mereka benar-benar tidak beraktivitas diluar selama sehari pada hari sabtu.

Setelah selesai Jum’at pun umat Nabi muhammad malah diperintah agar mencari fadhal allah baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat, seperti disebutkan dalam surat al-Jumu’ah ayat 10,

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوۡا فِى الۡاَرۡضِ وَابۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِ اللّٰهِ وَاذۡكُرُوا اللّٰهَ كَثِيۡرًا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ

Artinya, “Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”

Sebagai umat dari Nabi Muhammad SAW, sudah seharusnya seorang muslim harus bersyukur hidup di zaman ini. Karena syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW lebih ringan dibanding umat Nabi-Nabi terdahulu. Bahkan ketika umat Nabi Muhammad SAW melanggar, Mereka tidak langsung terkena azab, akan tetapi masih diberi kesempatan untuk bertaubat.

Oleh : Ulin Nuha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *