WARTA

Alumni : Tugas Mulia Penggarap PR Surga

Durrotu Aswaja – Menjadi alumni ternyata bukanlah suatu hal yang mudah. Setelah merampungkan masa belajarnya di Pesantren, bukan berarti tugas dan tanggung jawab mereka usai begitu saja. Justru beban di pundak semakin berat dirasa. Mereka dituntut untuk mengamalkan apa yang telah mereka dapatkan. Dengan menyandang gelar “santri” diiringi embel-embel “pernah mondok”, pastilah masyarakat memiliki kepercayaan yang tinggi kepada mereka.

Seperti yang telah dituturkan oleh alumni pondok pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljamaah, Hidayaturrahman dalam acara “Temu alumni” melalui sambutannya, “Tugas menjadi alumni itu ada tiga; yang pertama, setelah dari pondok pulang ke masyarakat, alumni harus membawa ajaran pondok ke masyarakat, yang kedua meningkatkan ketakwaan dan yang ketiga meningkatkan kebaikan” ujarnya. (24/3)

Tugas pertama ini bisa dibilang tugas yang berat karena santri harus punya bekal yang cukup untuk dibawa ke masyarakat. Karena apabila seorang santri tidak bisa membawa ajaran pondok dengan baik kepada masyarakat, tentu saja tidak hanya dia yang akan dipandang buruk melainkan almamater tempat ia dulu belajar juga akan terkena dampaknya.

Untuk tugas yang kedua ialah meningkatkan ketakwaan, “sebagai seorang alumni pondok pesantren kita harus selalu meningkatkan ketakwaan. Harus ada bedanya mana yang santri dan mana yang tidak pernah nyantri. Selain itu kita juga harus selalu menjaga nilai keagamaan, contohnya barangkali kita diminta untuk mempimpin tahlil secara dadakan, ya kita sebagai alumni harus siap” tambahnya.

Sedangkan tugas alumni yang ketiga yaitu meningkatkan kebaikan.
“Mari kita bersama-sama seoptimal mungkin melakukan kebaikan pada orang lain” Pungkasnya. Contoh paling mudahnya ialah selalu ringan tangan dan sepenuh hati melakukan pertolongan.

“Hidup adalah perjuangan, perjuangan adalah pengorbanan, pengorbanan adalah keikhlasan, keikhlasan adalah ruh penggerak kehidupan, ruh penggerak kehidupan adalah indahnya menggarap PR surga”– Abah Yai Masyrochan.

Penulis : Fitratul A’yuniyyah dan Muh. Fikri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *