WARTA

Ini Empat Golongan yang Dirindukan Surga

Durrotu Aswaja – Terdapat empat golongan manusia yang dirindukan surga. Keempat golongan itu, yakni para pembaca Alquran, orang yang memelihara lisan, orang yang memberi makan terhadap orang-orang yang tengah lapar, dan orang yang berpuasa di bulan Ramadan.

“Kita harus bersyukur karena hanya taalil quran (membaca Alquran), bukan qooriul quran atau khaammilul quran. Karena qooriul quran atau khaammilul quran sangat berat,” tutur Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhlas Pedurungan, Kota Semarang KH Ulil Albab Syaichun.

Kiai Ulil Albab mengatakan hal itu saat menyampaikan mauidoh hasanah di acara pengajian dan khotmil quran has ke XXXI Pondok Pesantren Durrotu Ahlussunnah Wal Jamaah (Durrotu Aswaja) Banaran, Gunungpati, Semarang, kemarin malam.

Selain Kiai Ulil Albab, haflah juga dihadiri Pengasuh Pondok Pesantren Almahrusyiyah Lirboyo Kediri KH Melvien Zainal Asyiqien, Habib Farid Al Munawar dan sejumlah lainnya.

Kiai Ulil melanjutkan, memelihara lisan untuk zaman sekarang ialah mampu menjaga jari-jarinya. Dijabarkannya, orang yang menjaga jari-jarinya tersebut dalam artian tidak mudah mencela, mencaci maki atau menebar fitnah kepada orang atau kelompok melalui telepon seluler di media sosial.

Mereka ini, kata dia sama halnya mampu menjaga lisannya dan masuk dalam kategori golongan yang dirindukan surga. Maka, Kiai Ulil Albab berpesan, apapun yang terjadi, jangan sekali kali mencela ciptaan Allah, seeperti manusia, baik dalam segi fisik maupun hal lainnya.

“Bapak-ibu, Anda kalau menginginkan surga tidak perlu susah payah membawa bom bunuh diri, tidak perlu. Jangan-jangan nanti tidak mati syahid, tetapi mati sangit (mati dalam keadaan buruk),” imbuhnya.

Sementara itu KH Melvien Zainal Asyiqien menuturkan, pondok pesantren merupakan salah tempat yang paling aman, dimana jika suatu daerah ada santri, kiai maka daerah tersebut aman.

“Allah tidak akan menurunkan azab kepada suatu kaum ketika di wilayah tersebut terdapat orang saleh,” tuturnya.

Pria yang akrab disapa Gus Melvien itu menceritakan sedikit kisah Nabi Muhammad saat masih di Kota Makkah. Saat itu, Kota Makkah dilanda badai debu selama tujuh hari, hingga akhirnya penduduk Makkah tidak kuat menerima bencana tersebut dan memohon kepada Nabi Muhammad agar berdoa kepada Allah SWT.

“Akhirnya Nabi Muhammad berdoa kepada Allah SWT dan balak pun sirna. Padahal yang meminta orang-orang yang memusuhi nabi, tapi Nabi Muhammad tetap mendoakan,” imbuhnya.

Pengasuh Ponpes Durrotu Aswaja Kiai Agus Ramadhan berharap para santri yang telah berhasil menghapalkan quran agar senantiasa dijaga hapalannya.

“Semoga kuat hafalannya. Untuk menjaga hafalan Aquran, maka sebarkanlah ilmu (hapalan Alquran) dengan memiliki murid walapun hanya satu, dua, tiga orang saja,” katanya.

Oleh : Ari Wibowo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *