Cerpen

PERJUANGAN SEORANG SANTRI

by : Khamerer Nebty

Pakdhe Darmo, aku ingin menjadi santri di pondok pesantren,” pintaku.

“ Kamu yang bener Shol?” jawab beliau dengan gesit.

“Iya, aku ingin lebih dekat dengan orang orang alim, aku ingin dekat dengan gusti Allah.”

“ Kamu dapet duit darimana Shol? Pakdhe gak ada duit, makan aja kita susah,” terang beliau.

Allah akan memberikan jalan Pakdhe, bismillah..”

**

Sang mentari mulai menampakkan sinarnya. Sejuk, damai, dan nyaman. Aku siap berangkat ke pesantren, tak banyak barang yang aku bawa, hanya satu tas berisi pakaian. Satu tas kresek berisi peralatan sekolah, dan sangu sebanyak Rp. 200.000,- pemberian Pakdhe.

Pakdhe memilih Pondok Pesantren Belalangan Ijo yang berada di Desa Belalangan, Semarang. Dulu Pakdhe pernah nyantri di sana, tapi hanya setengah tahun. Setelah itu beliau harus ke Jakarta  untuk mencari nafkah. Letaknya sangat jauh dari rumah, dan sepertinya sangat pelosok tapi kualitasnya sangat terjamin bagus. Pengasuhnya sangat baik dan sangat dekat dengan santrinya, nama beliau K.H. Imam Zuhri. Orang orang di sekitar desa memanggilnya dengan Mbah Zuhri. Beliau sangat disegani dan di hormati, banyak sekali orang yang datang meminta doa kepada beliau. Setiap kamis malam ada pengajian akbar. Banyak orang dari luar desa bahkan luar kota yang datang untuk mengikuti pengajian yang dipimpin langsung oleh beliau.

Disini semua serba mandiri, disamping ini pilihanku tapi ini juga keinginanku. Tapi selama ini aku juga biasa hidup mandiri, kedua orangtuaku meninggal dalam kecelakaan tabrak lari saat aku menginjak bangku SMP kelas tiga. Untungnya ada Pakdhe Darmomau mengurusiku dan membiayai sekolahku. Oleh karena itu aku tidak mau merepotkannya lagi.

Saat ini aku tidak  punya biaya untuk makan dan membeli kitab kitab karena uang pemberian Pakdhe sudah habis buat perjalanan tadi, aku tidak  tega pada beliau, jadi uang dari beliau tak balikin buat perjalanan pulang. Aku sudah janji kepada Pakdhe Darmo untuk tidak merepotkannya.

Saat ini aku menyendiri di pojok kamar dalam diam.

“Sholahudin, kamu kenapa,kang?” Tanya parmono, santri terpintar dikamarku mendatangiku.

“gakpapa, aku hanya bingung, kang” jawabku

‘kang’ adalah sebutan bagi santri cowok. Sedangkan santri cewek adalah ‘mbak’. Inilah salah satu yang aku sukai di lingkungan pesantren. Begitu unik dan saling peduli satu dengan yang lain. Berbeda dengan Jakarta, disana banyak sekali persaingan.

“Bingung kenapa, kang? Ada yang bisa aku bantu untukmu?” Katanya dengan meyakinkanku

“Aku gak ada duit buat bayar kitab dan makan. Menurutmu bagaimana?” jawabku langsung pada inti permasalahan.

“Oh itu, kamu ikut aku aja. Aku setiap pagi membantu warga desa di sawah. Aku menjadi buruh tani disini,” katanya

“Santri memang seperti ini, dia harus istiqomah belajar mengaji dan berusaha dengan keras dalam hidup, tapi tidak mencari kemewahan. Mereka mencari keberkahan,” terusnya. Itu sangat keren bagiku, mereka tidak mencari kemewahan dalam belajar dan hidup, mereka mencari berkah.

Ternyata beberapa santri di sini gratis dari biaya pondok. Mereka mengabdikan diri mereka untuk membantu keluarga sang kiai. Orang-orang biasa menyebutnya sebagai abdi ndalem. Ada juga yang bekerja menjadi buruh tani. Mereka mendatangi setiap rumah dan menawarkan diri mereka untuk membantu tuan rumah dalam mengurus sawah. Salah satunya kang Pram, dia setiap pagi sampai dzuhur pergi mencangkul ke sawah membantu saudara Abah Yai Zuhri, tepatnya kakak beliau. Tidak mudah melakukan 2 hal dalam sehari. Terkadang setelah bekeja, aku tertidur pada saat mengaji. Tapi ini pilihanku dan aku harus bisa fokus pada itu semua.

Warga desa Belalangan sangat mengenalnya, tiap hari sebelum berangkat kesawah, dia membantu keluarga untuk memasak. Dia ahli dalam hal masak memasak. Dia dijuluki si koki Blora, karena dia berasal dari Blora. Setelah mendengar cerita dari kang Pram, aku jadi lega. Besok pagi kang Pram akan mengajakku menemui Abah Yai Zuhri untuk sowan minta izin bekerja. Aku sangat senang dan berharap abah meridhaiku.

Malam ini aku tidur dengan nyenyak meski hanya 2 jam. Aku dan teman santri yang lain harus bangun jam 3 untuk melaksanakan salat tahajud. Orang orang biasa menyebutnya qiyamul lail yang artinya menghidupkan malam dengan ibadah ibadah, seperti sholat dan zikir yang dilakukan di malam hari sampai menjelang subuh tiba.

Pagi ini aku bersama kang Pram sowan ndalem untuk meminta izin bekerja. Perasaanku sangat gugup saat ini. Aku dan kang Pram sudah berada di depan pintu ndalem. Orang-orang di desa sini menyebut rumah seorang yang di anggap lebih tua biasanya dengan sebutan ndalem, biasanya keluarga priyayi.

Assalamualaikum…” salam Kang Pram dengan lembut.

Waalaikum salam, owalah Kang Pram ta, Pripun kang? wonten ingkang saget kula bantu?” jawab seorang perempuan cantik yang mengenakan krudung kuning dan rok hitam. Perkataannya tak aku mengerti. Dia menggunakan bahasa karma inggil dengan fasih.

Enggeh mbak, Abah Zuhri wonting ting ndalem mboten, mbak? Niki badhe nyuwunaken izin dumateng kang Sholahudin ingkang bade rewang. Piyambaipun santri enggal, mbak,” kata Kang Pram dengan cepat dan tidak aku mengerti.

“Oh ngoten, pangapunten ingkang kathah nggih kang, Abah nembe tindakan. Wau Abah nggih mpun ngendikan, menawi wongten ingkang badhe nyuwun izin, Abah maringi ridha , lan mugi mugi paring lancar saha barakah.”

Alhamdulillah… enggeh mbak matur nuwun sedayane nggeh, kula nyuwun pamit, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,’ dengan menunduk kang Pram dan aku sesegera untuk melangkahkan kaki balik arah lalu menuju kamar.

“Kang, tadi kalian nomongin apa sih?” tanyaku dengan lugu dan polos.

“Gini,  aku kan tanya Abah ada di rumah apa enggak. Terus dia jawab gak ada, lagi pergi. Tapi Abah sudah memberikan izin jika ada santri yang mamu bekerja. Abah memberikan ridha dan mendoakan semoga di beri kelancaran dan barokah,” jelas Kang Pram.

“oh ya kang? Alhamdulillah.. tapi aneh.” Jawabku dengan bingung.

“Aneh kenapa?”

“kenapa beliau sudah tahu ya? Padahal kita kan belum bertemu dengan Abah?”

“Allah maha agung, kang..”

Mulai saat itu, pada siang hari aku bekerja sebagai buruh tani membantu warga daerah sekitar. Sednagkan malam hari adalah jadwalku mengaji. Meski dari kecil aku tidak pernah mendapat pelajaran mengenal kitab kuning, aku disini sangat mudah dalam memahami. Tapi satu kesulitanku yaitu memaknai gandul, kata orang disini begitu. Mereka menyebutnya dengan makna gandul. Makna yang menggantung dibawah tulisan arab. Tapi aku tak pernah lelah untuk mencoba dan terus mencoba. Aku belajar bersama Kang Pram dan santri santri yang lainnya.

Sore ini sangat cerah meski matahari mulai berpamitan bobok. Kami semua mengenakan pakaian putih putih berjalan berbondong-bondong tanpa mengenakan alas kaki menuju ke pemakaman bapak dari Abah Zuhri. Setiap sore di hari kamis kliwon kita berziarah dan mengirim doa ke beliau.

Sudah 3 tahun ini aku mengabdidi Pondok Pesantren Belalangan . Aku tak pernah pulang ke rumah. Tapi aku juga tak pernah lupa mengirimi Pakdhe Darmo surat untuk memberitahu bagaimana kabarku disini, terlebih lagi Alhamdulillah aku bisa mengirim beliau sedikit rezeki. Aku sangat bersyukur berada disini, mencari ilmu dan keberkahan. Semoga perjuanganku tak sia sia dan penuh barokah. Amin..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *