Cerpen

Peci dan Sepasang Sepatu

Shofwatul Mala

Sepatu Kiri

Aku tak tahu sejak kapan mengenalnya, yang pasti kami hadir bersamaan. Kami selalu saling berusaha mendahului, eh atau kami berusaha bersama namun tak bisa? Aku melangkag tiga puluh senti ke depan, dia pun begitu. Namun kami tetap tak dapat bersama. Kami pernah berjalan di ladang yang gersang dan panasnya membuatku kering sekali. Kami pernah diceburkan dalam sungai kecil, Eits! Jangan salah, meski kecil tapi kotornya masya Allah.

          Aku bahagia karena Allah tak membiarkanku sendirian dengan menyandingkanku dengannya. Aku bahagia karena tak pernah sendirian, aku bahagia karena aku bersama dia. Meski persaingan kami tak pernah berhenti. Aku memanggilnya “Kanan”,  dia memanggilku “Kiri”. Dia selalu bangga karena Kanan dipakai lebih dulu sedangkan Kiri selalu yang kedua. Terkadang di situ saya merasa sedih. Tapinapa mau dikata. Aku tetaplah Kiri. Kiri tetaplah Kiri. Selalu yang kedua. Tapi aku juga yakin, meski ada kanan, tak akan berarti jika tak ada Kiri. Kanan tak akan dipakai jika Kiri menghilang. Karena takkan disebut Kanan jika tak ada Kiri.

~~~~~

Sepatu Kanan

          Kami tercipta untuk bersama, Kanan dan Kiri. Tapi aku lebih bahagia karena Kanan selalu didahulukan, Aku dipakai lebih dulu, aku melangkah lebih dulu, dan aku dilepas lebih dulu. Kiri selalu memasang raut manyun ketika kusebut soal ini. Haha terserahlah, Kanan memang selalu difavoritkan hehe. Meski aku juga tahu takan disebut Kanan jika tak ada Kiri. Persaingan kami tak pernah berhenti. Aku diangkat tinggi, dia pun begitu. Aku selalu sama, namun kami bukan satu. Aku berusaha memahami itu. Kami sama, tapi kami beda. aku Kanan dan dia Kiri.

~~~~~

Peci

          Panasnya terik siang ini, uuh! Harusnya aku tak dikeluarkan sekarang. Tapi aku lebih sering bersyukur karena aku bisa melindungi orang lain. Aku bersyukur karena Allah menjadikanku ternilai dengan posisiku saat ini. meskipun hargaku tak seberapa, tapi aku selalu diposisikan di atas dan dilindungi.

~~~~~

Panas terik tak menghalangi sepatu untuk tetap melangkah.

          Kilatan ekor dari matahari tak menghalangi sepatu untuk tetap melangkah bergantian. Kaki kiri seolah tak pernah mau mengalah dari kaki kanan yang selalu melangkah ke depan. Tak ada yang tahu kapan persaingan itu akan dimenangkan oleh siapa. Yang mereka tahu saat ini mereka membawa seorang anak yang tersenyum  cerah setelah pulang sekolah. Ditariknya ujung bibirnya hingga memperlihatkan gigi-gigi yang sebagian telah hilang karena kerasnya kehidupan.

          “Dek Fikar tolong sampein ke Ibu kalau nanti sore berangkat ke pasarnya besok aja gitu ya.”

          “Nggih Budhe, nanti tak sampeke,” jawab Fikar dengan senyumnya yang tetap melebar.

          Kaki kecil itu melangkah kembali. Sesampainya dirumah, dilepasnya kedua sepatu hitam yang telah lusuh dan sobek bagian depannya. Rak kayu yang berada disampaing pintu telah menanti untuk melindungi sepatu-sepatu dari itu dari teriknya matahari.

          “Assalamu’alaikum Ibu…! teriaknya sambil meletakkan sepatunya di tempat persinggahan sepatu. Fikar menghilang di balik tembok ruang tamunya, meninggalkan sepatu Kiri dan Kanan yang terengah-engah karena diajak berlari dengan kencangnya.

          “Hai Kanan, apakah kamu baik-baik saja”

          “Tak begitu baik sebenarnya, perhatikan bagian depanku yang terbuka semakin lebar, tak tahu kapan akan diperbaiki, sepertinya Ibu masih sibuk mengejar target untuk membyaar tunggakan bulan kemarin.”

          “Semoga mereka selalu diberi kesehatan, kamu harus kuat Kanan, Fikar saja tetap berlari menuju ke sekolah dan mengaji meski pasti kakinya merasa sakit karena bagian bawahku yang menganga, belum lagi kakinya yang semakin besar sedangkan kita tak kunjung melebar”

          “Hei kiri, mana ada kita bisa melebar, please deh, hadeeehhh”

          “Ya maka dari itu, kasihan si Fikar, andai aku bisa lebih besar hiks…”

          “Sudah Kiri, kita harus berdoa agar mereka selalu diberikan kesehatan dan selalu berada dalam lindungan Allah. Selalu ada kemudahan dibalik kesulitan, kan? Itu yang kudengan di halaman masjid saat Fikar mengikuti kajian bersama Ustaz Maulana he”

          “He’em amiin, semoga…”

~~~~~

Di atas meja kamar, peci telah tersenyum menyambut sang juragan.

          Kamar yang biasa menjadi tempat peristirahatan  si peci yang berwarna hitam dengan garis benang warna kuning. Kamar sederhana berdinding batu bata merah dengan satu tempat tidur serta meja belajar untuk tempat buku. Tak ada kursi di sana. Buku-buku tersusun rapi di atas meja dari buku matematika hingga IPA. Di salah satu sudut meja terdapat tempat khusus untuk menyimpan kitab-kitab ngaji-nya. Buku tulis bersampul coklat dengan tulisan “Semangat belajar” berisi catatan Tajwid berada paling ujung.

          “Ibu, tadi pesan dari Budhe Rasti kalau ke pasarnya diajak besok aja,” celoteh Fikar dengan semangat yang telah ditunggu oleh si hitam di atas meja akhirnya muncul juga.

          “Oh iya, yaudah kamu sini makan dulu sebelum berangkat ngaji ya…” teriak sang ibu dari arah dapur yang berada tepat di samping kamar Fikar. Diraiihnya peci hitam kumal serta koko putih dan sarung kotak-kotak warna biru. Selesai mengenakan kostum kebesarannya, anak kelas 4 SD itu menghambur ke dapur menyusul sang ibu yang telah merampungkan menggoreng tempe.

          “Bu, sepatu Fikar…” ucapan itu tak diteruskannya. Sang Ibu yang tahu  betapa telah rusaknya sepatu hitam anaknya tiba-tiba terdiam lalu mengangkat tempe dari penggorengan.

          “Maaf ya, Fik, Ibu masih mengejar untuk bulanan listrik dan air, nanti Ibu jahitkan bagian yang sobek gak apa-apa sayang?” jawab sang ibu yang menahan air di ujung matanya.

“Gak apa-apa, Bu, si hitamku masih kuat untuk diajak berlari kok he…” jawabnya polos itu semakin membuat sang ibu terenyuh, betapa luar biasanya putra kecilnya, sangat mirip dengan almarhum ayahnya. Andai saja sang ayah masih bisa melihat putranya telah menjadi anak yang luar biasa. Dia pasti akan sangat bangga.

Peci hitam bersandar di gantungan sebelah tempat wudu.

Duh ! [betapa segar air musala siang ini. Tapi apalah daya, akupun tak berani menyentuh air itu hehe. Maha Besar Allah dengan segala kebesaranNya. Dia anak yang sederhana, tak pernah meminta, tak pernah merengek. Dia terima apa yang diberikan Ibu. Tak pernah protes apalagi menuntut.

          Anak kecil itu perlahan membasuh wajahnya dengan air dari kran yang kepala krannta berwarna hijau. Terlihat seorang anak mendekat.

“Fik, lihat nih  peciku baru…” seketika itu kupicingkan mata melihat anak kecil yang berperut gendut itu. Uuh ! awas kalau kau pengaruhi Fikar untuk beli peci baru.

“oh, ya? Wah keren, beli dimana?” gleekkkk hiks. Fikar teganya, aku kan masih bagus, eh meski hitamku sudah tak se-eksotis dulu huhuhu.

“Di pasar tadi pagi, ayo beli, nanti kita kembaran.” Oouhh betapa leganya hati ini, terima kasih Fikar, meski aku tak tahu aku sudah tak sebagus saat baru, dan kamu ngomong gitu juga pasti karena tak ingin semakin membebani Ibu, huhuhu kamu memang keren Fik.

Si Kiri dan Kanan sedang istirahat cantik di rak kesayangan mereka.

          Suasana tenang dengan semilir angin. Oh, betapa menyenangkannya dunia ini, rasanya damai. Tiba-tiba seorang perempuan berjilbab biru mendekati mereka.

          “hai Kiri, lihat aku, Ibu mengambilku” teriak Kanan tiba-tiba membangunkan Kiri.

          “Hmmm? Ada apa Kanan?” Percakapan mereka berhenti begitu melihat linangan air mata sang ibu.

          “Maaf ya, Nak, Ibu belum bisa membelikan Fikar sepatu, sepatu lamanya ibu jahit dulu ya” ucapan sang ibu membuat Kiri dan Kanan turut terharu.

          “Kanan lihat, betapa luar biasanya Ibu,” ucap kiri sambil menyedot ingus yang mengalir dengan air matanya.

          “Iya Kiri, aku semakin sayang dengan Ibu, ibuuuu…..”

          “please deh Kanan, biasa aja gak bisa ya? Kenapa kamu jadi alay gitu?”

          “Eh iya ya, aduuhh… terharu aja sama Ibu he”

          “-_-“

Subhanallah. Perjuangan seorang perempuan yang telah melahirkan putrakecilnya.

JJJ

Peci dan sepasang sepatu.

          Sore harii di depan rumah seorang anak lelaki. Percakapan terjadi antara ibu dan putranya. Sang putra berjanji akan terus belajar agar bisa jadi orang sukses. Sang tersenyum dan berkata

          “kamu tahu Fik? Peci dan sepatu itu berbeda peran serta berbeda harga. Sepatu biasanya lebih mahal, tapi dia diinjak-injak. Peci yang lebih murah, tapi ditempatkan di atas. Tapi keduanya itu penting sayang. Keduanya punya peran masing-masing. Tak peduli kamu nanti jadi apa, kamu punya apa, yang penting kamu bisa bermanfaat bagi yang lain. Oke?”

          “siap, Bu! Doakan Fikar ya.”

          Hidup itu sederhana, tinggal kau melihat itu dari sisi mana. Seorang anak bisa dengan tegar menghadapi hidupnya, karena baginya hidup itu sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *