(Foto:asset.kompas.com)
Musyawarah Fiqih

Bagaimana Hukum Sholat Jum’at di Rest Area dan Perkantoran

HASIL MUWAFIQ 20/10/21

Deskripsi:

Tuntutan kerja membutuhkan mobilitas yang sangat cepat sehingga terkadang tidak bisa ditunda sehari-dua hari. Hal ini menyebabkan sebagian orang yang mempunyai tugas untuk pergi ke luar kota di hari aktif menjadi tuntutan lumrah. Tidak ketinggalan pula tuntutan kerja untuk pergi ke luar kota pada hari jum’at.

Selain masalah jum’atan diatas, kehidupan sosial masyarakat modern perkotaan, banyak mengalami pergeseran. Contohnya adalah orang yang berdomisili di kelurahan A dia kerja dikelurahan B. Penduduk masyarakat dikelurahan B, kerjanya sebagai driver ojek online yang mengakibatkan ia jum’atan di masjid kelurahan C. Orang-orang yang berada di daerah C, dia sekolah di kelurahan A. hal ini menyebabkan orang penduduk mukim sekitar masjid yang melakukan Jum’atan tidak sampai 40 orang.

Pertanyaan:

  1. Bagaimana hukumnya pergi ke luar kota di hari jum’at?
  2. Apakah orang yang pergi ke luar kota di hari jum’at boleh mengambil rukhshoh (dispensasi) untuk tidak mengikuti jum’atan?
  3. Bagaimana sikap kita jika pergi di hari jum’at namun bus yang kita tumpangi tidak berkenan berhenti untuk memberikan layanan supaya penumpang bisa melakukan jum’atan?
  4. Apakah sah mengikuti jum’atan yang diselenggarakan di masjid rest area atau diperkantoran, sekolahan dan kampus yang semua jama’ahnya adalah bukan penduduk setempat.

Jawaban:

  1. Boleh, tidak ada larangan bepergian di hari apapun
  2. Haram

Ma’khod:

وحرم على من تلزمه الجمعة وان لم تنعقد به (سفر) تفوت به الجمعة كأن ظن أنه لايرد كها فى طريقة أو مقصدة ولو كان السفر طاعة مندوبا أو واجبا (بعد فجرها) أى فجر يوم الجمعة الاان خشى من عدم سفره ضررا كانقطاعه عن الرفقة (فتح المعين، صفحة:٤٤)

3. Tetap melaksanakan sholat jum’at akan tetapi sholat jum’at tersebut diganti dengan sholat dzuhur

Ma’khod:

وَلَوْ حَضَرَتْ الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ وَهُمْ سَائِرُونَ وَخَافَ لَوْ نَزَلَ لِيُصَلِّيَهَا عَلَى الْأَرْضِ إلَى الْقِبْلَةِ انْقِطَاعًا عَنْ رُفْقَتِهِ أَوْ خَافَ عَلَى نَفْسِهِ أَوْ مَالِهِ لَمْ يَجُزْ تَرْكُ الصَّلَاةِ وَإِخْرَاجُهَا عَنْ وَقْتِهَا بَلْ يُصَلِّيهَا عَلَى الدَّابَّةِ لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ وَتَجِبُ الْإِعَادَةُ لِأَنَّهُ عُذْرٌ نَادِرٌ (المجموع شرح المهذب (3/ 242)

4. Boleh, jika di tempat itu terdapat pemukiman warga dan tidak boleh jika di tempat itu tidak terdapat pemukiman warga.

Ma’khod:

الثاني: أن تقام في خطة أبنية أوطان المجمعين، ولو لازم أهل الخيام الصحراء أبدا فلا جمعة في الأظهر. (المنهاج، صحفة: ٥٤)

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *