WARTA

Tasyakuran Wisuda: Pesan Pendiri Jadi Bekal Calon Alumni

SEMARANG – Setelah 2 tahun vakum, Pondok Pesantren Durrotu Aswaja (PPDA) kembali mengadakan acara “Tasyakuran Wisuda (TASWIS)” pada Sabtu (18/12/2021). Acara ini diikuti oleh 91 santriwan dan santriwati PPDA yang telah menyelesaikan studi formalnya di Universitas Negeri Semarang dan Universitas Diponegoro.

“TASWIS merupakan acara yang sudah lama tidak terlaksana di PPDA yaitu sejak 2019 karena adanya virus corona,” ujar ketua panitia Taswis, Rozaq saat memberikan sambutan. 

“TASWIS sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu, sebagai adat bagi santriwan santriwati Pondok Pesantren Durrotu Aswaja yang telah menyelesaikan studi formalnya baik di UNNES maupun UNDIP,” imbuhnya.

 Rozaq menjelaskan tujuan dari acara ini yaitu untuk mewujudkan rasa syukur atas terselesaikannya pendidikan formal. Ia pun berharapan agar para santri yang telah wisuda dapat dimudahkan jalan kedepan nya.

Sejalan dengan hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Durrotu Aswaja (PPDA), Kyai Agus Ramadhan berpesan dalam Mauidlohnya bahwa Taswis ini bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu.

“Selesainya pendidikan bukan berarti selesai pula tugasnya sebagai thalib atau santri, karena طلب العلم من المهد الى اللحد Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat. Tuntutan santri itu harus terus belajar (long life education), tidak boleh merasa cukup. Walaupun belum diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah formal kembali tetapi harus terus belajar dan belajar, tidak boleh berhenti sampai di sini,” ujarnya.

Beliau juga berpesan, meskipun sudah lulus dan pulang ke kampung halaman para santri harus terus memegang apa yang menjadi pedoman atau motto dari Abah Kiai Masrochan (Pendiri Pondok Pesantren Durrotu Aswaja) yaitu:

Hidup adalah perjuangan

Perjuangan adalah pengorbanan

Pengorbanan adalah keikhlasan

Keikhlasan adalah ruh penggerak kehidupan

Ruh penggerak kehidupan adalah indahnya menggarap PR Surga.

Selain itu, para santri juga diberikan wejangan agar tidak saklek dalam berdakwah di masyarakat dan mengikuti perkembangan diluar dengan berpegangan pada prinsip لمحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح yakni ‘Memelihara atau menjaga warisan lama yang baik dan mengambil penemuan baru yang lebih baik’.

Tidak hanya itu, para santri juga diberi tahu apa itu Kunci Kesuksesan. Jika para santri ingin sukses maka harus mempunyai 2 Kunci Kesuksesan, yaitu jujur dan amanah. Meskipun jujur dan amanah adalah suatu sesuatu yang tidak mudah akan tetapi jika bisa dilakukan maka akan sukses dunia dan akhiratnya.Kemudian di akhir mauidhohnya, beliau juga mendoakan para santrinya agar menjadi orang yang  صالح لدينه وصالح لمجتمعته,  para santri tidak hanya bagus agamanya saja akan tetapi juga bisa bersosialisasi di masyarakat.(MA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *